Rabu, 17 Februari 2010

TAROMBO ASAL-USUL RAJA PANUSUNAN TAMIANG-MANDAILING

Tarombo adalah catatan atau tulisan yang dapat dipergunakan untuk mencatat setiap silsilah/kerabatan menurut garis keturunan Bapak dari suatu generasi suatu marga dari leluhur masing-masing ke generasi berikutnya menurut adat-istiadat masing-masing sampai saat ini. Tarombo sistem silsilah selalu dihubungkan dengan anak laki-laki. Orang Mandailing merasa hidupnya bahagia jika telah mempunyai anak laki. Sistem masyarakat patrilineal adalah masyarakat dimana anggota-anggotanya menarik garis keturunan dari pihak laki-laki (ayah) saja terus menerus, sehingga berakhir pada suatu kepercayaan bahwa mereka semua berasal dari satu Bapak asal. Tarombo Marga lubis keturunan Raja Panusunan Tamiang Mandailing di buat  pada tanggal 18 April 1930 oleh Kepala Kuria Tamiang Soetan Koemala Boelan, pada saat itu pada tahun 1930 sudah sampai keturunan/generasi ke-12 (keduabelas). Artinya kalau satu keturunan/generasi diasumsikan berumur rata-rata 30 (tiga puluh ) tahun, maka usia Tarombo (asal usul garis keturunan) tersebut sudah berusia selama 360 tahun (12 keturunan x rata rata umur  30 tahun).

 Tarombo atau kisah tentang silsilah Asal-Usul Raja-Raja di Kerajaan Tamiang,  diurutkan secara Patrilineal sebagai berikut:


No
Nama Radja Dan Gelar
Radja Panusunan Dan Kepala Kuria
Tahun
1 
Namora Pande Bosi
(Founding Father)
Hutalobu Hatongga
Sigalangan (Angkola Jae)
+/-1532
Abad ke-16
2 
Baitang
Moeara Pungkoet atau Partomoean
+/-1562
Abad ke-16
3 
 Alogo Gelar Radja Partomoean
Moeara Pungkoet ke Panjoburan
+/-1592
4 
Umala Bulan  Gelar Radja Soniarga
Huta Dangka Dolok
+/-1622
Abad ke-17
5 
Payaman  Gelar Raja Mananti
Huta Dangka Dolok
+/-1652
6 
Soetan Naparas  ke-1
Radja Panusunan Tamiang  ke-1
+/-1682
7 
Radja Dolok
Radja Panusunan Tamiang  ke-2
+/-1712
Abad ke-17
8   
Soetan Naparas Ke-2
Radja Panusunan Tamiang  ke-3
+/-1742
9  
Baginda Radja
Radja Panusunan Tamiang  ke-4
+/-1772
Abad ke-18
10
Sutan Guru
(Putra dari Sutan Naga Soboluson  memberontak ke penjajahan Belanda)
Soetan Naparas Ke-3

Soetan Panoesoenan
Radja Panusunan Tamiang  ke-5



Radja Tamiang Panusunan   ke-6  dan Kepala Kuria Pertama
Radja Tamiang Panusunan  ke-7  dan Kepala Kuria Kedua
1840
Abad ke-19


1840-1848

1849-1875
11
Patoean Dolok Ke-2
Radja Panusunan Tamiang  ke-8  dan  Kepala Kuria Ketiga
1875-1903
Abad ke-19 Dan Ke-20
12
Soetan Goeroe Panoesoenan

Soetan Koemala Boelan
Radja Panusunan Tamiang ke-9  dan Kepala Kuria Keempat
Radja Panusunan Tamiang ke-10  dan Kepala Kuria Kelima
1903-1915
Abad ke-20
1915-1932
13
Patuan Dolok Ke-3

Radja Panusunan Tamiang ke-11  dan Kepala Kuria keenam  Terakhir Keenam dan Menjadi Raja Budaya
1932-1946


 
Keunggulan Tarombo/Kisah silsilah dapat menelusuri asal usul Marga Lubis Tamiang, menceritakan kejadian dari awal generasi sampai ke generasi berikutnya, antara lain:
·         Namora Pande Bosi diperkirakan berada pada tahun +/- 1532 (abad ke-16) di hitung dari saat  lahir Sutan Panusunan Juli 1802.
·         Diperkirakan generasi Baitang hidup pada tahun +/- 1562 (abad ke16), dimana  mempunyai darah keberanian, darah kemauan keras  untuk menghadapi tantangan hidup dan perubahan zaman yang lebih baik (dimulai dari Huta Nopan Padang Lawas ke Lobu Hatongga  di Sigalangan menemui bapaknya, lalu  mengembara dan mendirikan pemukiman di wilayah Mandailing Julu).

·         Marga Lubis disebut juga Marga Alogo (angin) yang artinya mempunyai sifat seperti angin, kadang lembut seperti angin sepoi-sepoi basah yang bisa menghayutkan perasaan seorang, namun dapat juga berubah seperti haba-haba na mangombus atau seperti angin puting beliung dalam mempertahahan martabat, apabila perasaannya atau harga dirinya tersinggung oleh perbuatan orang lain. Salah satu sifat lain dari marga lubis adalah pargusar tai paribo, yaitu pemarah tetapi penghiba. (Datu Marajar, Marga Lubis, Alogo Ni Tano Rura Mandailing).
·         Kampung besar Tamiang sudah ada +/- sejak tahun 1682 atau abad ke-17 (sudah berusia 308 tahun sampai tahun 2008), merupakan pemukinan pertama yang dibuka oleh  Sutan Naparas ke-1 (pertama) dan Raja JANJIAN atau Raja Panusunan pertama di Kerajaan Adat Tradisional Tamiang Mandailing.
·         Raja Panusunan atau Raja Tradisional Tamiang sudah suksesi sampai 11 (sebelas) kali (+/- selama 330 tahun).
·         Bagas Godang Tamiang di bangun dari zaman Patuan Dolok ke-2, Raja Tamiang ke-9  dan terbakar pada tahun 1943 di  masa penjajahan Jepang.
·         Pemerintahan kolonial Belanda berkuasa sejak tahun 1833 dengan ditempatkan Controleur Bonnet untuk memerintah Onder Afdeling Groot en klein Mandailing Oeloe Pakantan di Kotanopan dan Nama Raja Janjian diganti dengan Raja Panusunan/Kepala Kuria sebagai Kepala Pemerintah Bumiputera yang tertinggi di Mandailing.
·         Kepala Kuria yang merupakan bagian administrasi pemerintahan kolonial Belanda sudah suksesi sampai 6 (enam) kali (dari 1833 sampai dengan 1946, yaitu selama 113 tahun). Soetan Naparas Ke-3 menjadi Kepala Kuria Pertama sejak tahun 1830.
·         Raja Panusunan ke-10 Soetan Koemala Boelan, pendidikan dari Gouv. Inl. School di Muara Sipongi, Sekolah Raja Boekit Tinggi bagian O (pleiding) S (chool) V (oor) ,Pewarta Deli yang mengkitik kekejaman Belanda terutama masalah pemungutan pajak (belasting), rodi (kerja paksa) dan menulis pertama kali Tarombo Lubis Tamiang keturunan Namora Pande Bosi. Menurut Jenderal Besar TNI AD Abdul Haris Nasution dalam Buku Soetan Koemala Boelan adalah Raja Panusunan Tamiang yang merakyat.
·         Raja Panusunan ke-11 Patuan Dolok, pendidikan Technnisch Onderwijs Koningin Wilhelmina School (KWS) Batavia (Djakarta).
·         Masa penjajahan Jepang Kedudukan Raja, sistem pemerintahan Kuria, tradisi, adat istiadat, agama Mandailing tidak ada yang berubah dan melanjutkan yang sudah ada. Tetapi masyarakat mengalami penderitaan amat sangat pada masa penjajahan Jepang, antara lain:
-          Sembako sangat berkurang.
-          Sebagian masyarakat memakai pakaian kulit kayu.
-          Obat-obatan sangat berkurang.
-          Sarana transportasi sangat berkurang.
-          Barang-barang impor tidak datang lagi dari luar negeri.
-          Minyak lampu langka.
-          Siara-siaran radio disensor.
-          Ribuan masyarakat menjadi kuli-kuli (romusa) di kirim  ke Logas (pekan Baru) meninggal.
-          Banyak masyarakat menjadi tentara Heiho dan Jigun.
·         Raja Panusunan dan Kepala Koeria Terakhir di Kerajaan Adat Tradisional Tamiang adalah Partomuan Lubis gelar Patuan Dolok ke-3 berakhir tahun 1946, dimana sejak 17 Agustus 1945 Indonesia Merdeka sistem pemerintahan adat dan kepala administrasi pemerintahan (Kepala Koeria) tetap ada dan diakui sampai tahun 14 Maret 1946 dan kemudian menjadi Raja Budaya.
·         Setelah 14 Maret 1946 sampai saat ini, perkembangan, kelestarian adat-istiadat, peradapan dan kebudayaan Tamiang Mandailing terutama merupakan tanggung jawab keturunan-keturunan dari Namora Pande Bosi (Baitang) dan pada umumnya masyarakat asal dari Mandailing.
Keturunan dari Patuan Dolok III dalam mengisi masa pembangunan Republik Indonesia dengan peningkatan  sumber daya manusia (SDM) terutama: pendidikan,  pekerjaan, agama, melestarikan tradisi, adat-istiadat, kebudayaan yang merupakan warisan nusantara Indonesia dan khususnya Mandailing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas partisipasi dalam pelestarian adat-istiadat